Musik Life

Sabtu, 15 Mei 2010

TENTANG BUDAYA DI SEKITAR CIREBON

Kebudayaan sedekah bumi di daerah cirebon

Masyarakat pantai utara cirebon, yang terkenal dengan udang dan petisnya, bermata pencaharian utama bertani dan melaut sejak zaman dulu sudah berkembang. Dalam usaha bertani dan melaut pada sebelum islam, mereka terikat dengan agama nenek moyang, pada masa itu masyarakat semua percaya kepada dewa penguasa bumi, dewa penguasa laut, dan sebagainya. Mereka mengangapa para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakianan atas hadirnya para dewa itu ti junjukan dengan penyajian seseaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil hasil usahanya.

Sedekah bumi di daerah cirebon
Sedekah bumi yang masih di lakukan di berbagai daerah menjadi ruang public untuk membagi kebersamaan atas hasil pertanian dalam 1 tahun tanam menyisihkan sedikt hasil panen dalam acara tumpengan ataw sejenisnya yang sederhana denagan antaran doa bersama semoga hasil panen berikut mandapat hasil yang melimpah, tidak ada gangguan yang berarti di dalam usaha pertanian, serta keselatan bersama dari berbagai bala/ bencana. Sebagai ritual budaya suatu daerah dengan ragam seni pertunjukan local ataupun ragam makanan yang unik dari berbagai daerah.

Upacara adapt sedekah bumi dilaksanakan pada cawu ke 4 (bulan oktober ) setiap tahunya.tradisi di laksanakan hamper di seluruh dese desa di cirebon, misalnya yang masih kuat melaksanakn tradisi ini adalah desa astana gunung jati yang termasuk kedalam kecamatan gunung jati sekarang. Sebagai pelaksanaanya adalah ki penghulu serta ki jeneng astana gunung jati berikut para keraman. Pelaksanaan adapt juga di dukung oleh para pemuka masyarakat dan tokoh agama di desa desa yang berkaitan dengan kraton cirebon, mereka di sebut prenata. Pelaksanaanya di mulai dengan membuka balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keratin di berbagai daerah (masih ada di daerah pegagan ) oleh ki penghulu dan ki jeneng atas restu si nuhun. Selanjutnya ki penghulu berama ki jeneng ngaturi pasamon( mengadakan pertemuan ) para prenatal dan para pemuka adapt lainya, dalam pasamon di tetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi. Maka sejak di tetapkanya hari pelaksanaanya itu, di sebarkanlah secara getok tular kepada seluruh penduduk bahwa akan di adakan sedekah bumi, melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “gelondong pengaren-areng”.

Dari mitos cerita di ataslah maka sedekah bumi di jadikan oleh kepercayaan masyarakat untuk menyambut datngnya musim penghujan. Namun dasawarsa terakhir ini nampaknya makna dari sedekah bumi sudah bergeser dari makna awal. Selaian dari upacara ceremony rutinitas biasa sekaranng sedekah bumi menjadi daya tarik pariwisata oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang dating setiap di adakanya sedekah bumi, yang maksud dan tujuannya pun berbeda pula, namun paling tidak tradisis ini masih tetap di pertahankan sampe sekarang.